Mengganti Splash Screen pada Openoffice 3 di Ubuntu 9.10
Pernahkah berfikir untuk merubah tampilan Splash Screen pada Openoffice 3 di Ubuntu 9.10?. Iseng-iseng saya mengunjungi Gnome-look mencari hal-hal menarik untuk saya pasang di Ubuntu saya. Saya memilih menu Artwork->Splash Screen, disitu terdapat Splash Screen Openoffice. Karena penasaran, saya download, dan berhasil
. ok berikut tahapannya :
Download filenya di Gnome-look, lalu ekstrak file *.bmp saja atau semuanya juga tidak apa-apa ke /usr/lib/openoffice/program, jangan lupa untuk me-rename file-file original sebagai backup. Kemudian masuk ke /etc/openoffice/ dan cari file sofficerc, bukan sofficerc.sh. Klik dua kali lalu set seperti berikut :
[Bootstrap]
HideEula=1
Logo=1
ProgressBarColor=104,171,197
ProgressFrameColor=102,167,187
ProgressPosition=14,230
ProgressSize=412,7
Selamat mencoba, bisa juga kunjungi penjelasan aslinya disini.
QR Code atau Kode QR
QR Code? Kode QR? mungkin beberapa dari kita belum tahu apa itu Kode QR, kalau saya sendiri sebenarnya sudah lama melihat Kode QR, meskipun belum terlalu mengerti. Secara iseng, saya mencari tahu di Wikipedia tentang Kode QR, Berikut ulasan singkat dari Kode QR.
Kode QR atau biasa dikenal dengan istilah QR Code adalah bentuk evolusi kode batang (mungkin lebih dikenal dengan Bar Code) dari satu dimensi menjadi dua dimensi. Penggunaan kode QR sudah sangat lazim di Jepang. Hal ini dikarenakan kemampuannya menyimpan data yang lebih besar dari pada kode batang, sehingga mampu mengkodekan informasi dalam bahasa Jepang sebab dapat menampung huruf kanji. Kode QR telah mendapatkan standarisasi internasional dan standarisasi dari Jepang berupa ISO/IEC18004 dan JIS-X-0510 dan telah digunakan secara luas melalui ponsel di Jepang.
Definisi
Kode QR adalah suatu jenis kode matriks atau kode batang dua dimensi yang dikembangkan oleh Denso Wave, sebuah divisi Denso Corporation yang merupakan sebuah perusahaan Jepang dan dipublikasikan pada tahun 1994 dengan fungsionalitas utama yaitu dapat dengan mudah dibaca oleh pemindai. QR merupakan singkatan dari quick response atau respons cepat, yang sesuai dengan tujuannya adalah untuk menyampaikan informasi dengan cepat dan mendapatkan respons yang cepat pula. Berbeda dengan kode batang, yang hanya menyimpan informasi secara horizontal, kode QR mampu menyimpan informasi secara horizontal dan vertikal, oleh karena itu secara otomatis Kode QR dapat menampung informasi yang lebih banyak daripada kode batang.
Penggunaan QR
Awalnya kode QR digunakan untuk pelacakan bagian kendaraan di manufaktur/perusahaan, namun kini kode QR digunakan dalam konteks yang lebih luas, termasuk aplikasi komersial dan kemudahan pelacakan aplikasi berorientasi yang ditujukan untuk pengguna telepon selular. Di Jepang, penggunaan kode QR sangat populer, hampir semua jenis ponsel di Jepang bisa membaca kode QR sebab sebagian besar pengusaha disana telah memilih kode QR sebagai alat tambahan dalam program promosi produknya, baik yang bergerak dalam perdagangan maupun dalam bidang jasa. Pada umumnya kode QR digunakan untuk menanamkan informasi alamat situs suatu perusahaan. Di Indonesia, kode QR pertama kali diperkenalkan oleh KOMPAS. Dengan adanya kode QR pada koran harian di Indonesia ini, pembaca mampu mengakses berita melalui ponsel nya bahkan bisa memberi masukan atau opini ke reporter atau editor surat kabar tersebut. Menarik bukan?.
Fungsi dari Kode QR
Kode QR berfungsi bagaikan hyperlink/hipertaut fisik yang dapat menyimpan alamat dan URL, nomer telepon, teks dan sms yang dapat digunakan pada majalah, surat kabar, iklan, pada tanda-tanda bus, kartu nama ataupun media lainnya. Atau dengan kata lain sebagai penghubung secara cepat konten daring (dari dalam jaringan) dan konten luring (dari luar jaringan). Kehadiran kode ini memungkinkan audiens berinteraksi dengan media yang ditempelinya melalui ponsel secara efektif dan efisien. Pengguna juga dapat menghasilkan dan mencetak sendiri kode QR untuk orang lain dengan mengunjungi salah satu dari beberapa ensiklopedia kode QR . Secara garis besar fungsi dari kode QR itu ada dua, yaitu dari sisi komersial, dan dari sisi umum.
-
Kepentingan Komersial
Kode QR memungkinkan penggunanya untuk memasukkan logo perusahaan, klip video ataupun foto ke kode QR, tanpa menghilangkan substansi informasi apapun dari sumber yang dimasukkan. Contoh penggunaan kode QR yang didalamnya memuat konten klip video adalah kode QR yang digunakan oleh kelompok penyanyi dari Inggris bernama Pet Shop Boys pada tahun 2007. Ketika kode dipindai dengan benar, maka pengguna akan diarahkan ke situs Pet Shop Boys. Selain itu pada tahun 2009 kode QR digunakan untuk kampanye pemasaran Movie 9 di San Diego Comic Con. Pada saat itu, pelanggan diberikan kartu yang menampilkan kode QR yang telah terintegrasi dengan karya seni yang bersangkutan. Jadi, pelanggan dapat mengakses cuplikan film melalui kode QR tersebut.
-
Kepentingan Umum
Kode QR dapat dimanfaatkan di bidang keamanan makanan dengan cara menambahkan kode QR yang berisikan data-data mengenai kandungan nutrisi dan masa kadaluarsa pada tiap label makanan, sehingga pelanggan dapat merasa lebih aman dalam memilih makanan yang dibeli sebab mereka dapat mengetahui informasi-informasi tentang makanan tersebut. Di Jepang, hal ini telah diterapkan oleh McDonald. Terdapat 19 jenis sandwich yang diberi kode QR yang mengandung informasi alergi, jumlah kalori dan nutrisi yang terkandung dalam sandwich tersebut. Selain itu kode QR juga dapat diberikan di halte bus, sehingga penumpang dapat mengetahui keberadaan bus yang sedang ditunggu. Cara kerjanya adalah dengan memberikan hipertaut ke kamera CCTV di setiap jalan melalui koneksi internet pada ponsel. Lebih lanjut lagi, kode QR dapat dipasang pada kartu pelajar, sehingga akan mempermudah proses absensi siswa, dan mempermudah akses bagi para siswa, guru, dan orang tua murid kepada informasi proses belajar mengajar. Sangat positif ternyata manfaatnya.
Ada beberapa dokumen standar yang meliputi pengkodean fisik dari QR Code, yaitu :
- Oktober 1997 — AIM International
- Januari 1999 — JIS X 0510
- Juni 2000 — ISO/IEC 18004:2000
Mendefinisikan simbol Kode QR Model 1 dan Model 2 - 1 September 2006 — ISO/IEC 18004:2006
Mendefinisikan Kode QR sebanyak 2005 simbol, yang merupakan perpanjangan dari Kode QR Model 2. Tidak menjelaskan bagaimana membaca simbol Kode QR Model 1, atau apa saja yang diperlukan.
Pada layer aplikasi, ada beberapa perbedaan implementasi. NTT DoCoMo telah menetapkan secara de facto standar untuk pengkodean URL, informasi kontak, dan beberapa tipe data lain. Proyek open-source “zxing” menyimpan daftar tipe data Kode QR.
Cara Penggunaanya
Kode QR dapat digunakan pada ponsel yang memiliki aplikasi pembaca kode QR dan memiliki akses internet GPRS atau WiFi atau 3G untuk menghubungkan ponsel dengan situs yang dituju via kode QR tersebut. Pelanggan, yang dalam hal ini adalah pengguna ponsel hanya harus mengaktifkan program pembaca kode QR, mengarahkan kamera ke kode QR, selanjutnya program pembaca kode QR akan secara otomatis memindai data yang telah tertanam pada kode QR. Jika kode QR berisikan alamat suatu situs, maka pelanggan dapat langsung mengakses situs tersebut tanpa harus lebih dulu mengetikkan alamat dari situs yang dituju. Jika ingin mengakses kode QR dengan ponsel tanpa kamera, maka hal pertama yang harus dilakukan oleh pengguna adalah dengan menjalankan terlebih dahulu aplikasi peramban (browser) yang ada pada ponsel, lalu masukkan URL halaman yang bersangkutan, selanjutnya masukkan “ID” atau 7 digit nomor yang tertera di bawah kode dan klik tombol Go, maka pengguna akan memperoleh konten digital yang diinginkan. Hal ini tentu mempermudah pelanggan dalam mendapatkan informasi yang ditawarkan oleh pemilik usaha. Jenis-Jenis aplikasi yang dapat membaca kode QR antara lain misalnya Kaywa Reader, yang dapat di instal pada ponsel Nokia, iMatrix, aplikasi untuk iPhone dan ZXing Decoder Online yang dapat digunakan untuk mendekode kode QR berupa imaji dengan memasukkan URL image maupun dengan mengunggahnya.
Kelebihan dari Kode QR
Kode QR memiliki kapasitas tinggi dalam data pengkodean, yaitu mampu menyimpan semua jenis data, seperti data numerik, data alphabetis, kanji, kana, hiragana, simbol, dan kode biner. Secara spesifik, kode QR mampu menyimpan data jenis numerik sampai dengan 7.089 karakter, data alphanumerik sampai dengan 4.296 karakter, kode binari sampai dengan 2.844 byte, dan huruf kanji sampai dengan 1.817 karakter. Selain itu kode QR memiliki tampilan yang lebih kecil daripada kode batang. Hal ini dikarenakan kode QR mampu menampung data secara horizontal dan vertikal, oleh karena itu secara otomatis ukuran dari tampilannya gambar kode QR bisa hanya seperspuluh dari ukuran sebuah kode batag. Tidak hanya itu, kode QR juga tahan terhadap kerusakan, sebab kode QR mampu memperbaiki kesalahan sampai dengan 30% untuk Level H, lalu untuk Level Q sampai 25%, Level M sampai 15%, dan Level L sampai 7%. Oleh karena itu, walaupun sebagian simbol kode QR kotor ataupun rusak, data tetap dapat disimpan dan dibaca. Tiga tanda berbentuk persegi di tiga sudut memiliki fungsi agar simbol dapat dibaca dengan hasil yang sama dari sudut manapun sepanjang 360 derajat.
Kode QR menggunakan Reed-Solomon error correction. Contoh di bawah ini mengilustrasikan bagaimana menangani distorsi kode QR. Pixels ditambahkan atau dihapus dari kode asli untuk memeriksa batas tingkat distorsi. Kedua gambar yang telah diubah tetap dapat dikenali dengan menggunakan Level L error correction.
Berikut contoh penggunaan QR Code :
Semoga bermanfaat.
Songbird Error?, tidak bisa jalan karena langsung close!
Yup, saya punya pengalaman seperti itu, Songbird tiba-tiba tidak bisa jalan, awalnya jangankan memainkan lagi begitu di klik saja tidak muncul sama sekali. Kemudian karena penasaran di coba beberapa kali, muncul sekali terus langsung close sendiri. keliling cari masalahnya dimana dengan mencoba menjalankannya melalui terminal. Benar ternyata memang ada masalah di Songbird, sepertinya ada masalah dengan library bawaannya, library Gstreamer.
Berikut adalah error yang muncul di terminal,
(songbird-bin:3604): GLib-WARNING **: g_set_prgname() called multiple times
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: Failed to load plugin
‘/usr/lib/gstreamer-0.10/libgstmpegdemux.so’: /usr/lib/
gstreamer-0.10/libgstmpegdemux.so: undefined symbol: _gst_debug_dump_mem
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: Failed to load plugin
‘/usr/lib/gstreamer-0.10/libgstrawparse.so’: /usr/lib/
gstreamer-0.10/libgstrawparse.so: undefined symbol: gst_video_format_new_caps_interlaced
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: Failed to load plugin
‘/usr/lib/gstreamer-0.10/libgstlibvisual.so’: /usr/lib/
gstreamer-0.10/libgstlibvisual.so: undefined symbol: gst_adapter_prev_timestamp
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: Failed to load plugin
‘/usr/lib/gstreamer-0.10/libgstmatroska.so’: /usr/lib/
gstreamer-0.10/libgstmatroska.so: undefined symbol: gst_util_array_binary_search
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: Failed to load plugin
‘/usr/lib/gstreamer-0.10/libgstdv.so’: /usr/lib/
gstreamer-0.10/libgstdv.so: undefined symbol: gst_tag_list_new_full
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: Failed to load plugin
‘/usr/lib/gstreamer-0.10/libgstavi.so’: /usr/lib/
gstreamer-0.10/libgstavi.so: undefined symbol: _gst_debug_dump_mem
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: Failed to load plugin
‘/usr/lib/gstreamer-0.10/libgstapp.so’: /usr/lib/
libgstapp-0.10.so.0: undefined symbol: gst_buffer_list_get_type
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: Failed to load plugin
‘/usr/lib/gstreamer-0.10/libgsthdvparse.so’: /usr/lib/
gstreamer-0.10/libgsthdvparse.so: undefined symbol: _gst_debug_dump_mem
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: Failed to load plugin
‘/usr/lib/gstreamer-0.10/libresindvd.so’: /usr/lib/
gstreamer-0.10/libresindvd.so: undefined symbol: gst_navigation_event_parse_command
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: Failed to load plugin
‘/usr/lib/gstreamer-0.10/libgstdeinterlace.so’: /usr/lib/
gstreamer-0.10/libgstdeinterlace.so: undefined symbol:
gst_video_format_parse_caps_interlaced
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: Failed to load plugin
‘/usr/lib/gstreamer-0.10/libgstschro.so’: /usr/lib/
gstreamer-0.10/libgstschro.so: undefined symbol: gst_adapter_masked_scan_uint32
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: invalid name template bwf_audio_sink_%u:
conversion specification must be of type ‘%d’ or ‘%s’ for GST_PAD_REQUEST padtemplate
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: invalid name template alaw_audio_sink_%u:
conversion specification must be of type ‘%d’ or ‘%s’ for GST_PAD_REQUEST padtemplate
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: invalid name template dv_dif_video_sink_%u:
conversion specification must be of type ‘%d’ or ‘%s’ for GST_PAD_REQUEST padtemplate
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: invalid name template jpeg2000_video_sink_%u:
conversion specification must be of type ‘%d’ or ‘%s’ for GST_PAD_REQUEST padtemplate
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: invalid name template mpeg_audio_sink_%u:
conversion specification must be of type ‘%d’ or ‘%s’ for GST_PAD_REQUEST padtemplate
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: invalid name template mpeg_video_sink_%u:
conversion specification must be of type ‘%d’ or ‘%s’ for GST_PAD_REQUEST padtemplate
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: invalid name template up_video_sink_%u:
conversion specification must be of type ‘%d’ or ‘%s’ for GST_PAD_REQUEST padtemplate
(songbird-bin:3608): GStreamer-WARNING **: invalid name template vc3_video_sink_%u:
conversion specification must be of type ‘%d’ or ‘%s’ for GST_PAD_REQUEST padtemplate
/opt/Songbird/./songbird-bin: symbol lookup error: /usr/lib/python2.6/dist-packages/
gst-0.10/gst/_gst.so: undefined symbol: gst_task_pool_get_type
Could not initialize GStreamer: Error re-scanning registry , child terminated by signal
Lalu apa solusinya? saya dapat dari sebuah blog kalau tidak salah, hanya saya lupa alamatnya, saya ambil salah satu dari beberapa solusi yang diberikan oleh orang yang mengomentari blog tersebut. Beliau menyarankan agar menghapus file yang mengandung huruf libgst*.* , kemudian saya coba dengan hanya mengompresnya ke sebuah file berekstensi tar.gz, buat jaga-jaga jikalau ketika saya hapus benar-benar menjadi lebih kacau, bisa di kembalikan lagi seperti semula.
Dan hasilnya BERHASIL, Problem SOLVED!. Saya tidak tahu apakah ini sebuah solusi terbaik atau bukan, namun ini mungkin salah satu yang termudah.
Merubah Letak Close,Maximize,Minimize di Ubuntu
Bagi kita yang terbiasa dengan Sistem Operasi Macintosh mungkin sedikit canggung dengan letak Close, Maximaze, dan Minimize Window yang berada di sebelah kanan. Baiklah, kita akan mencoba merubah letak mereka dengan keinginan kita, yaitu di sebelah kiri.
Kita mulai dengan menekan shorcut untuk menampilkan jendela Run Application, yaitu Alt+F2. Dan munculah jendela Run Aplication. Kemudian kita isi pada inputan dengan gconf-editor,
lalu tekan Enter, kita pilih apps -> metacity -> general, dan pilih button layout.
Dan ubah isi dari button layout dengan apa yang kita inginkan posisinya, dalam hal ini saya mengisinya dengan close,maximize,minimize:menu.
tekan enter dan secara otomatis letak tombol-tombol tersebut berubah.
berikut gambar sebelum di rubah,
Unik kan? Selamat mencoba.









